Kamis, 02 Agustus 2012

Ajaran Susila


SUSILA

            Tri Kerangka agama Hindu adalah 3 bagian dari inti ajaran agama Hindu,yaitu tattwa (filsafat), susila (etika), dan upacara (ritual). Pada bab ini yang di bahasa adalah bagian kedua dari Tri Kerangka agama Hindu, yaitu Susila / Etika.
            Susila berasal dari bahasa Sanskerta,yaitu kata “Su” yang artinya baik, dan “Sila” yang artinya tingkah laku. Jadi Susila adalah tingkah laku yang baik. Manusia tidak dapat hidup sendiri dan pasti bergantung dengan orang lain,maka manusia disebut mahluk sosial.Dalam hidup tersebut, perlu adanya suatu peraturan untuk mengatur kehidupan ini. Peraturan dalam bertingkah laku yang baik disebut sebagai Tata Susila, dan Agama merupakan dasar tata susila.
            Dari semua itu, timbullah suatu ajaran yang disebut Tat Twam Asi yang berarti itu adalah engkau (Tuan), semua makhluk itu adalah Engkau, Engkaulah awal mula roh (Jiwatman), dan Sat (prakerti) semua makhluk. Hamba ini adalah makhluk yang berasal dari Mu, oleh karena itu Jiwatmanku dan prakertiku tunggal dengan Jiwatman dan prakerti semua makhluk. Oleh karena itu aku adalah Engkau, aku adalah Brahman “Aham Brahma Asmi” . Demikianlah yang tercantum di dalam kitab Brhadaranyaka Upanisad.Jadi prinsip dasar Susila Hindu adalah adanya satu Atmanyang meresapi segalanya.Bila kamu merugikan makhuk lain,berarti kamu merugikan dirimu sendiri,karena segenap alam tiada lain adalah dirimu sendiri.Di antara makhluk hidup, manusia merupakan makhluk paling istimewa, makhluk yang paling sempurna karena memiliki tri pramana (bayu, sabda, idep). Dengan Idep, manusia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta mampu melebur perbuatan buruk ke dalam perbuatan baik.
            Ajaran Susila hendaknya diterapkan di dalam kehidupan kita di dunia ini, karena di dunia inilah tempat kita berkarma.Untuk dapat meningkatkan diri, manusia harus mampu meningkatkan sifat-sifat baik dan mulia yang ada pada dirinya. Pada dasarnya dalam diri manusia ada dua kecenderungan, yaitu kecenderungan berbuat baik dan kecenderungan berbuat buruk. Sri Kresna di dalam kitab Bhagawadgita membagi kecenderungan budhi manusia menadi dua bagian, yaitu :
1.      Daiwi Sampad, yaitu sifat-sifat kedewaan.
2.      Asuri Sampad, yaitu sifat-sifat keraksasaan.
            Daiwi Sampad dimaksudkan untuk menuntun perasaan manusia ke arah keselarasan antara sesama manusia, dan sifat seperti inilah yang perlu dibina. Kemudian, kita mengenal sifat-sifat Asuri Sampad (sifat-sifat yang buruk) yang harus kita hindari. Perkembangan kecenderungan sifat-sifat Daiwi Sampad dan Asuri Sampad pada manusia tersebut ada yang timbul karena faktor luar dan ada pula faktor dari dalam diri sendiri serta ada pula dari kedua faktor tersebut.

TRI GUNA
Tri Guna adalah tiga sifat yang mempengaruhi tingkah laku manusia,yang terdiri, dari :
  1. Sattwam adalah sifat tenang.
  2. Rajas adalah sifat dinamis.
  3. Tamas adalah sifat lamabn.

Tri Guna terdapat pada setiap manusia hanya saja ukurannya berbeda-beda. Tri Guna merupakan tiga macam elemen atau nilai-nilai yang ada hubungannya dengan karakter dari makhluk hidup khususnya manusia.
            Di dunia ini, tak seorang pun yang luput dari Tri Guna. Ketiga guna tersebut merupakan satu kesatuan yang berkerja sama dalam kekuatan yang berbeda-beda. Perpisahan di anatara tiga guna itu tidak mungkin terjadi karena dengan demikian tidak akan ada suatu gerak apa pun pada manusia. Berdasarkan pengaruh Tri Guna tersebut, sifat-sifat manusia itu ada yang digolongkan ke dalam sifat-sifat yang baik dan ada yang buruk. Namun perlu diingat, di dalam kerja sama antara ketiga guna tersebut sattwamlah seharusnya sebagai pengendali, geraknya dibantu oleh rajah, dan tamah sebagai pengerem. Bila kerjasama antar ketiganya tidak ada, tri guna ini akan menghadapi rintangan. Misalnya pada sifat seseorang tamah lebih dominan dibandingkan yang lain, maka orang tersebut merupakan orang yang memiliki sifat lamban, malas, kurang disiplin. Maka dari itu, sangat diperlukan kerjasama yang baik dan seimbang di dalam Tri Guna.


 DASA MALA
Dasa Mala merupakan salah satu bentuk dari asubha karma selain, Tri Mala, Sad Ripu, Sad Atatayi, dan Sapta Timira. Dasa Mala merupakan sumber dari kedursilaan, yaitu bentuk perbuatan yang bertentangan dengan susila yang cenderung kepada kejahatan. Semua perbuatan yang bertentangan degnan susila hendaknya kita hindari dalam hidup ini agar terhidar dari penderitaan. Bila kita ingin hidup tenang, kita harus melebur perbuatan buruk ke dalam perbuatan baik.
            Dasa Mala terdari dari :
  1. Tandri artinya orang yang maals, suka makan dan tidur saja, tidak tulus, hanya ingin melakukan kejahatan.
  2. Kleda artinya berputus asa, suka menunda, dan tidak mau memahami maksud orang lain. Sikap putus asa, suka menunda-nunda suatu pekerjaan adalah merupakan sikap yang didominasi oleh sifat-sifat tamas.
  3. Leja artinya berpikiran, bernafsu besar, dan gembira melakukan kejahatan. Pikiran paling menentukan kualitas prilaku manusia dalam kehidupan di dunia ini. pikiranlah yang mengatur gerak sepuluh indria sehingga disebut Raja Indria. Apabila Raja Indria tidak baik maka indria yang lain pun menjadi tidak baik pula.
  4. Kutila artinya menyakiti orang lain, pemabuk, dan penipu. Menyakiti dan membunuh makhluk lain, lebih-lebih manusia merupakan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama. Kutila juga berarti pemabuk. Orang yang suka mabuk maka pikirannya akan menjadi gelap. Pikiran yang gelap akan membuat orang tersebut melakukan hal-hal yang bersifat negatif termasuk menyakiti orang lain, menipu dan sebagainya. Di dalam pergaulan ia akan terlihat kasar dalam berkata atau pun bertindak, suka menyakiti orang lain.
  5. Kuhaka artinya pemarah, suka mencari-cari kesalahan orang lain, berkata sembarangan, dan keras kepala.
  6. Metraya adalah suka berkata menyakiti hati, sombong, irihati, dan suka menggoda istri orang lain.
  7. Megata artinya berbuat jahat, berkata manis tetapi pamrih. Lain dimulut lain dihati, berkata manis karena ada udang dibalik batu, adalah perbuatan yang sering dilakukan oleh orang yang terlalu pamrih.
  8. Ragastri artinya bernafsu dan suka memperkosa. Ragastri merupakan sifat-sifat yang bertentangan ajaran agama. Sifat-sifat asuri sampad / sifat-sifat keraksasaan. Memperkosa kehormatan orang lain adalah perbuatan terkutu dan hina.
  9. Bhaksa Bhuana artinya suka menyakiti orang lain, penipu, dan hidup berfoya-foya. Berfoya-foya berarti mempergunakan arta melebihi batas normal. Hal ini tidak baik dan melanggar dharma, yang dapat berakibat tidak baik pula. Sering kita lihat di masyarakat, bahwa kekayaan yang berlimpah jika penggunanya tidak didasari oleh dharma pada akhirnya justru menyebabkan orang akan masuk neraka, seperti mabuk, mencari wanita penghibur, dan sebagainya.
  10. Kimburu artinya penipu dan pencuri terhadap siapa saja tidak pandang bulu, pendengki dan irihati. Sifat dengan dan irihati merupakan salah satu sifat yang kurang baik (asubha karma) yang patut dihilangkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar